Lokakarya Perlindungan Anak yang Ditinggalkan Pekerja Migran

 

 

 

 

 

 

Indonesia adalah negara pengirim migran terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Filipina. Sebagian besar pekerja migran memiliki dua tujuan utama, yaitu meningkatkan kesejahteraan keluarga dan memberikan kesempatan hidup yang lebih baik untuk anak-anak mereka. Namun demikian, ada peningkatan kesadaran dan pemahaman bahwa migrasi tenaga kerja temporer memiliki efek yang kompleks dan diferensial pada keluarga serta anak-anak yang ditinggalkan.

Fakta bahwa lebih dari setengah pekerja migran adalah perempuan, sebagian besar ibu pencari nafkah, menimbulkan kekhawatiran akan 'defisit perawatan' yang dialami oleh anak yang ditinggalkan serta harapan bahwa fenomena ini akan mengarah pada negosiasi ulang terhadap budaya patriarkal dan pembagian gender yang lebih egaliter terkait kerja rumah tangga dan pekerjaan perawatan. Anak-anak dalam konteks ini berada dalam kondisi rentan sehingga layak mendapat perhatian khusus dengan dukungan kebijakan.

Di sisi lain, perlindungan terhadap hak dan keselamatan pekerja migran secara khusus dinyatakan sebagai salah satu agenda pembangunan nasional. Namun, kebijakan pembangunan saat ini tidak memberikan perhatian khusus kepada keluarga dan anak-anak yang ditinggalkan oleh pekerja migran.

 

Lokakarya Perlindungan Anak yang Ditinggalkan Pekerja Migran

Pada 15 Desember 2015 The SMERU Research Institute, bekerjasama dengan Bappenas dan UNICEF, mengadakan Lokakarya Perlindungan Anak yang Ditinggalkan Pekerja Migran, bertempat di Hotel Santika Premiere Hayam Wuruk, Jakarta.

Tujuan utama dari lokakarya ini adalah memfasilitasi diskusi kebijakan mengenai perlindungan holistik bagi anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tua pekerja migran, terutama ibu. Lokakarya ini secara khusus membahas:

  1. berbagai penelitian tentang keterpisahan anak dari orang tua yang menjadi pekerja migran serta dampaknya bagi kesejahteraan anak
  2. berbagai pengalaman dalam penyediaan dukungan dari pemerintah dan non-pemerintah yang ditujukan untuk mengurangi dampak buruk bagi anak yang ditinggalkan pekerja migran

Acara lokakarya dibagi menjadi 4 sesi, yaitu:

  1. Pembukaan dan Sambutan oleh Dr. Asep Suryahadi (Direktur The SMERU Research Institute), Dr. Petra Hoelscher (Chief of Social Policy, UNICEF), dan Ir. Yosi Diani Tresna, MPM (Subdit perlindungan Anak, Dit. Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak, BAPPENAS).
  2. Sesi 1 membahas temuan dari tiga studi mengenai kondisi dan kesejahteraan anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tua pekerja migran.
  3. Sesi 2 membahas kebijakan dan dukungan yang diberikan oleh pemerintah dan organisasi non-pemerintah untuk mengurangi dampak buruk bagi anak yang ditinggalkan pekerja migran.
  4. Sesi 3 memberikan kesempatan kepada seluruh peserta dan pembicara untuk bertukar pikiran mengenai isu-isu kebijakan penting yang muncul dari keseluruhan diskusi serta dari peserta lokakarya. Diskusi ini dilaksanakan dengan format FGD dan dipimpin oleh Dr. Asep Suryahadi.

Lokakarya ini mengundang para pelaku pembangunan serta pemangku kepentingan terkait isu anak yang berasal dari pemerintah, kalangan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), lembaga penelitian, akademisi, serta lembaga donor.

 

Tindak lanjut Pasca-acara Lokakarya

Kami mengundang Anda untuk mengunjungi situs SMERU untuk mengakses materi seminar, seperti dokumen presentasi (pdf) dan tautan video lokakarya. Jika Anda ingin melihat dokumentasi foto selama penyelenggaraan acara lokakarya, silakan kunjungi halaman Facebook The SMERU Research Institute. 


Share it