Diskusi Kebijakan Pembangunan SDM Era Jokowi 2.0

Sebagai kelanjutan dari Forum Pembangunan Daerah yang diadakan di kantor Bappeda Provinsi Jawa Barat, The SMERU Research Institute menyelenggarakan Seminar Nasional Berbagi Hasil Penelitian Sosial-Ekonomi berjudul “Arah Pembangunan SDM pada Periode Kedua Jokowi: Pelajaran dari Riset-Riset Terkini”, bekerja sama dengan Center for Sustainable Development Goals (SDGs Center) Universitas Padjadjaran, Bandung, pada 31 Juli 2019.

Tema ini dipilih berdasarkan keputusan pemerintahan Presiden Jokowi periode kedua yang akan menitikberatkan pada pembangunan SDM sebagai penggerak ekonomi nasional di masa depan. Diperlukan upaya bersama dari pemerintah, pemangku kepentingan, masyarakat dan sektor swasta agar akselerasi pencapaian pembangunan SDM menjadi lebih optimal. Seminar nasional ini akan menjadi ruang diskusi untuk membahas pilihan kebijakan dan langkah yang perlu dilakukan berdasarkan hasil riset-riset dan praktik baik terkini.

Didukung oleh DFAT-Kedutaan Besar Australia, Knowledge Sector Initiative (KSI), Kementerian Dalam Negeri, Kereta Api Indonesia, dan Telkom Indonesia, acara ini dihadiri oleh sekitar 180 orang, terdiri atas mahasiswa dan akademisi dari Universitas Padjadjaran serta sejumlah universitas di Bandung, staf pemerintah daerah/Bappeda, Kantor Staf Presiden, lembaga donor, lembaga nonpemerintah, lembaga penelitian, praktisi, pakar, serta berbagai pemangku kepentingan di Jawa Barat.

Dr. Zuzy Anna (Direktur Eksekutif SDGs Center-UNPAD) dan Ibu Ir. Widjajanti Isdijoso, M.Ec.St. (Plt. Direktur The SMERU Research Institute) memberikan pidato sambutan dengan mengungkapkan harapan agar seminar tersebut dapat memberi sumbangan pemikiran kepada Pemerintah Pusat serta Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Setelah itu, acara dibuka secara resmi oleh Plt. Rektor Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Rina Indiastuti, S.E., M.SIE. Hadir sebagai pembicara kunci Prof. Arief Anshory Yusuf, S.E., M.Sc., Ph.D. (Guru Besar Bidang Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Padjadjaran) yang menyampaikan paparan dengan judul “Status dan Tantangan Pembangunan SDM Indonesia”. Prof. Arief Anshory mengemukakan bahwa pemerintahan Jokowi sudah mengambil langkah yang tepat dengan berfokus pada pengembangan SDM pada periode kedua. Selain itu, pemerintah menghadapi berbagai tantangan antara lain dalam hal efektivitas pemanfaatan sumber daya untuk pertumbuhan ekonomi, akses ke air bersih, dan optimalisasi bidang penelitian dan pengembangan.

Seminar nasional ini menghadirkan beberapa pembicara dalam dua sesi. Sesi pertama mengambil tema “Ketenagakerjaan dan Penghidupan” dengan moderator Dr. Zuzy Anna. Pembicara dalam sesi ini adalah Goldy F. Dharmawan, SE (SMERU) dengan paparan “Lulusan SMA vs SMK: Peluang Bekerja dan Tingkat Pendapatan”; Dr. Haryo Aswicahyono dan Dandy Rafitrandi (CSIS) dengan paparan berjudul “Disruptive Technology in Indonesia's Manufacturing Sector”; dan Aprilia Ambarwati, S.Ant. (AKATIGA) yang memaparkan “Anak Muda dan Pertanian di Indonesia”. Goldy menyoroti temuan penelitian bahwa tingkat partisipasi angkatan kerja SMK di Indonesia lebih tinggi daripada SMA. Lulusan SMK lebih aktif mencari pekerjaan daripada melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi. Walaupun begitu, dari sisi pengangguran, lulusan SMK lebih banyak daripada lulusan SMA. Selain itu, di Jawa Barat, lulusan SMK cenderung memiliki pendapatan lebih tinggi daripada SMA. Keberadaan pusat-pusat industri di Jabar menjadi penjelas dari situasi tersebut. Pembangunan SMK di Jabar mempunyai kontribusi cukup baik pada peningkatan pendapatan warganya karena lulusan SMK cenderung menetap/ tidak melakukan migrasi ke wilayah lain dalam lima tahun terakhir.

Sesi kedua bertema “Pelayanan Dasar” dengan moderator Dr. Adiatma Siregar (CEDS, Universitas Padjadjaran). Pembicaranya adalah Dr. Mohamad Fahmi (FEB Universitas Padjadjaran) yang mengangkat isu “Recent progress on SDGs 4 (education) in Indonesia”; Dr. Raden Muhamad Purnagunawan (FEB Universitas Padjadjaran/TNP2K) yang memaparkan “Toward a Healthy Indonesia: Survey of Recent Development”; dan Mayang Rizky, M.Sc. (SMERU) yang menyajikan “Pengujian Metode Small Area Estimation (SAE) untuk Pembuatan Peta Status Gizi di Indonesia”. Mayang menggarisbawahi temuan hasil studinya bahwa estimasi dengan SAE terbukti cukup reliabel dan valid serta adanya perbedaan angka estimasi 2013 dengan hasil verifikasi 2019 karena perubahan struktur demografis dan sosial-ekonomi desa. Rekomendasi dari studi tersebut di antaranya:

  1. penerapan metode SAE dapat dilanjutkan secara nasional karena lebih murah daripada sensus antropometri;
  2. perlu memastikan konsistensi hasil sensus balita di enam kabupaten dengan menggunakan Riskesdas 2018; dan
  3. perlu verifikasi lanjutan dengan menggunakan data sekunder tingkat desa lainnya seperti e‑PPGBM (sistem aplikasi daring pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat).

Kesimpulan keseluruhan diskusi dalam seminar nasional ini disampaikan oleh Ibu Widjajanti Isdijoso, yang menggarisbawahi seluruh temuan dan rekomendasi yang telah dipaparkan dan didiskusikan pada sesi sebelumnya serta mengusulkan adanya rumusan lebih lanjut yang dapat disusun oleh SMERU dan SDGs Center untuk dapat memberikan masukan yang konkret kepada pemerintahan Jokowi periode kedua. Setelah itu, acara ini ditutup oleh Dr. Zuzy Anna.

Kunjungi situs web SMERU untuk mengakses materi seminar, seperti dokumen presentasi (.pdf) dan video seminar melalui tautan berikut: http://www.smeru.or.id/id/seminarnasional2019.

Untuk melihat dokumentasi foto selama penyelenggaraan acara seminar, kunjungi halaman Facebook The SMERU Research Institute (https://www.facebook.com/SMERUInstitute/).


Share it