Diskusi Panel Tingkat Tinggi mengenai “Pertumbuhan Ekonomi Inklusif: Mengurangi Kemiskinan dan Ketimpangan”

The SMERU Research Institute dipercaya oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas RI menjadi penyelenggara Diskusi Panel Tingkat Tinggi mengenai “Pertumbuhan Ekonomi Inklusif: Mengurangi Kemiskinan dan Ketimpangan” di Bali pada 10 Oktober 2018. Acara tersebut merupakan bagian dari Pertemuan Tahunan IMF-World Bank 2018.

Dibuka oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang P. S. Brodjonegoro, acara ini dibagi dalam tiga sesi dengan tema berbeda, yaitu (i) Pertumbuhan Ekonomi Inklusif dan Agenda Pembangunan, (ii) Kemiskinan, Ketimpangan, dan Keuangan Islam, dan (iii) Pertumbuhan Ekonomi Inklusif: Pelajaran untuk Indonesia.

Sesi I dimoderatori oleh Direktur SMERU, Asep Suryahadi, dan menghadirkan tiga pembicara, yaitu M. Chatib Basri (Menteri Keuangan RI periode 2013-2014), Paul Winters (Associate Vice President of the Strategy and Knowledge Department IFAD), dan Ridwan Kamil (Gubernur Jawa Barat). Pembicara pertama, M. Chatib Basri, mengungkapkan bahwa peningkatan ketimpangan tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di beberapa negara lain. Beliau juga menekankan pentingnya berfokus pada pertumbuhan lapangan pekerjaan, alokasi pembiayaan pendidikan kesehatan dan belanja sosial, serta deregulasi pasar tenaga kerja. Paul Winters mengemukakan bahwa pertanian produktif tidak dapat dikesampingkan dalam pertumbuhan ekonomi inklusif. Ridwan Kamil memaparkan berbagai program yang sedang dan akan beliau jalankan di Provinsi Jawa Barat, seperti Program Satu Desa Satu Perusahaan, Omaba (Ojek Makanan Bayi), dan perbankan mikro dalam jaringan; semua bertujuan untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan ketimpangan.

Pada sesi II, dengan tema Kemiskinan, Ketimpangan, dan Keuangan Islam, yang bertindak sebagai moderator adalah Vivi Yulaswati (Direktur Pengembangan Usaha Kecil, Menengah dan Koperasi—Bappenas). Sebagai pembicara pertama, Mahmoud Mohieldin (Wakil Presiden Senior Bank Dunia) menyoroti masalah aksesibilitas dan kualitas data terkait kemiskinan. Beliau juga merekomendasikan adanya intervensi kebijakan dari pemerintah untuk membuka jalan bagi berkembangnya keuangan Islam, yang pada akhirnya dapat menopang pembangunan berkelanjutan. Pembicara kedua, Bambang Sudibyo (Ketua BAZNAS), menyebutkan bahwa manfaat dari pertumbuhan ekonomi selama ini lebih banyak dinikmati oleh kelompok masyarakat atas dibandingkan dengan kelompok masyarakat menengah ke bawah, sehingga memperlebar disparitas sosial. Hal tersebut menambah pentingnya pengadopsian pendekatan filantropi Islam di Indonesia dengan terus menggali potensi manfaat system zakat. Yenny Wahid (Wahid Foundation) sebagai pembicara ketiga menyajikan Program Kampung Damai dengan penekanan pada pemberdayaan masyarakat ekonomi produktif. Dalam program tersebut, masyarakat dapat diberi kemudahan untuk mengakses kredit, dianjurkan untuk menabung sebagai mekanisme asuransi mikro, difasilitasi dengan pelatihan vokasional untuk mengembangkan kapasitas, dan lain-lain. Pesan yang disampaikan melalui program ini, jika tersampaikan, akan menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi. Pembiicara terakhir di sesi II, Yasuyuki Sawada (Chief Economist—Asian Development Bank), menyampaikan bahwa tingkat ketimpangan di Asia terus meningkat dan masalah ini perlu segera diatasi agar tidak terus menghambat pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Sistem keuangan Islam bisa menjadi alternatif untuk menjaga momentum pertumbuhan di Asia.

Sesi terakhir menutup keseluruhan acara dengan menghadirkan Muhammad Iman Usman (Pendiri Ruang Guru) dan beberapa narasumber dari sektor swasta, yaitu Azalea Ayuningtys (Pendiri dan CEO Du’Anyam), Teddy Oetomo (Chief Strategy Officer—Bukalapak), Brett Gerson (Public Policy Counsel—Google Asia Pacific), dan Peng Bo (General Manager, Rural Finance Business Department—Ant Financial). Keempat pembicara menyampaikan pengalaman dan program lembaga bisnis mereka dalam pemberdayaan masyarakat, baik dalam lingkup regional maupun global. Mereka juga mengemukakan pentingnya kolaborasi antara sektor swasta dan pemerintah serta adanya dukungan pemerintah dalam bentuk peraturan yang membantu terciptanya lingkungan tempat tumbuhnya industry teknologi, yang dapat mempercepat tercapainya pertumbuhan inklusif.

Semua materi yang dipaparkan tersedia di tautan berikut http://bit.ly/inclusive-2018. Selain itu, dokumentasi foto telah tersedia di halaman Facebook The SMERU Research Institute (https://www.facebook.com/SMERUInstitute/).