Estimasi Dampak Pandemi COVID-19 pada Tingkat Kemiskinan di Indonesia

Penulis: Ridho Al Izzati

Editor: Wiwin Purbaningrum

 

Sorotan

  • Bank Dunia memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 hanya akan mencapai 2,1%. Dalam skenario terburuk, pertumbuhan ekonomi Indonesia bahkan bisa turun menjadi −3,5%.
  • Hasil simulasi SMERU menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan pada 2020 akan mencapai 12,4% (meningkat dari 9,2% pada September 2019). Artinya, akan ada 8,5 juta orang miskin baru.
  • Tingkat kemiskinan sebesar 12,4% sama dengan angka pada 2011. Dengan kata lain, jika proyeksi tersebut benar-benar terjadi, progres pemerintah dalam menurunkan tingkat kemiskinan akan kembali ke kondisi pada 2011.

 

Pandemi COVID-19 dan Guncangan Ekonomi

Jumlah kasus positif COVID-19 di seluruh dunia telah mencapai sekitar 3,5 juta kasus dengan angka kematian 240.000 jiwa. Di Indonesia, hingga 2 Juni 2020, jumlah kasus positif mencapai 26.940 kasus dengan angka kematian 1.641 jiwa.

Pandemi COVID-19 ini tidak hanya mengakibatkan krisis kesehatan, tetapi juga berdampak pada perekonomian secara global. Dampak ekonomi pandemi COVID-19 dimulai dari adanya guncangan terhadap suplai barang dan jasa yang tersedia di pasar (supply shock). Guncangan tersebut terjadi ketika orang-orang (mayoritas pekerja) dalam rantai produksi terinfeksi virus dan kemudian sakit. Kondisi ini menyebabkan penurunan tingkat produktivitas individu ataupun perusahaan. Guncangan terhadap suplai juga didorong oleh pembatasan aktivitas fisik (physical distancing) ataupun pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sebagai bagian dari upaya pengendalian penyebaran pandemi. Dua kebijakan tersebut mengakibatkan banyak pabrik, kantor, dan pusat bisnis ditutup untuk sementara.

Guncangan terhadap suplai pada akhirnya akan diikuti oleh guncangan terhadap permintaan konsumen (demand shock). Selama pandemi, tingkat konsumsi cenderung turun akibat berbagai kebijakan untuk menghambat penyebaran pandemi, seperti penutupan sebagian besar pusat perbelanjaan dan pembatasan transportasi umum. Tingkat konsumsi masyarakat juga turun akibat turunnya tingkat pendapatan atau hilangnya mata pencaharian.

 

Pandemi COVID-19 dan Munculnya Orang Miskin Baru

Dampak pandemi COVID-19 pada aktivitas perekonomian diprediksi akan berlangsung cukup lama. Jika hal ini terjadi, kemungkinan besar masyarakat dunia akan mengalami resesi atau krisis ekonomi yang parah. Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi dunia pada 2020 akan turun hingga −3%. Resesi ini akan mendorong munculnya orang miskin baru. Hasil studi Sumner, Hoy, dan Ortiz-Juarez (2020) yang mencakup 138 negara berkembang dan 26 negara berpendapatan tinggi menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 akan memunculkan sekitar 85 juta orang miskin baru.

Bagaimana dengan Indonesia? Bank Dunia (2020) memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 hanya akan mencapai 2,1%. Dalam skenario terburuk, angka proyeksi tersebut bisa turun menjadi −3,5%. Angka tersebut lebih rendah daripada pertumbuhan ekonomi pada 2019 yang hanya sebesar 5%.  Guncangan ekonomi di Indonesia juga diprediksi akan mendorong munculnya orang miskin baru.

Kami melakukan sebuah studi untuk mengestimasi dampak COVID-19 pada tingkat kemiskinan di Indonesia (Suryahadi, Al Izzati, dan Suryadarma, 2020). Simulasi tingkat kemiskinan pada 2020 dilakukan dalam beberapa skenario dengan menggunakan data Survei Sosial-Ekonomi Nasional (Susenas). Dalam simulasi tersebut kami menggunakan lima proyeksi pertumbuhan ekonomi pada 2020 dari beberapa lembaga dan hasil studi, yakni pertumbuhan ekonomi sebesar 4,2% (Bank Indonesia, 2020), 3,1% (Rogers, 2020), 2,1% (World Bank, 2020), 1,2% (Yusuf, 2020), dan 1% (The Economist Intelligence Unit, 2020). Semua proyeksi tersebut menunjukkan adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi pada 2020. Data BPS pun menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama 2020 yang hanya sebesar 2,97% (BPS, 2020).

Economic growth projections for 2020−2023 (%) (growth in 2019 is actual growth as the baseline)

Kami mengacu pada guncangan ekonomi yang terjadi dalam periode 2005–2006 sebagai tolok ukur dalam melakukan simulasi. Dalam periode tersebut pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat dan, pada saat yang sama, tingkat kemiskinan naik.

Hasil simulasi dampak pandemi COVID-19 pada tingkat kemiskinan di Indonesia dibagi menjadi tiga skenario berdasarkan tingkat keparahan, yaitu paling ringan, moderat, dan paling berat. Dalam skenario paling ringan, ekonomi Indonesia akan tumbuh sebesar 4,2% dan tingkat kemiskinan akan naik dari 9,2% (angka pada September 2019) menjadi 9,7% pada akhir 2020, atau sekitar 1,3 juta lebih orang akan menjadi miskin. Dalam skenario moderat, ekonomi Indonesia akan tumbuh sebesar 2,1% dan tingkat kemiskinan akan mencapai 11,4%, atau akan ada 6 juta orang miskin baru. Dalam skenario paling berat, ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh sebesar 1% dan tingkat kemiskinan akan naik menjadi 12,4%, atau sebanyak 8,5 juta lebih orang akan jatuh miskin.

Projected impact of COVID-19 outbreak on poverty rate and number of poor people

Change in poverty rate and number of poor people

Jika tingkat kemiskinan sebesar 12,4% benar-benar terjadi, upaya untuk menurunkannya akan sangat sulit dilakukan. Dalam kondisi seperti itu, Pemerintah Indonesia perlu melakukan upaya yang sangat besar dan masif untuk mencapai target RPJMN 2024.

Kenaikan tingkat kemiskinan akibat pandemi COVID-19 perlu mendapatkan perhatian serius dari pengambil kebijakan baik di tingkat pusat maupun daerah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan Pemerintah Indonesia adalah memperkuat program perlindungan sosial untuk membantu masyarakat, terutama mereka yang menjadi miskin atau makin miskin akibat pandemi COVID-19 (Yumna et al., 2020).


Bagikan Postingan Ini