Petani bukan Profesi Dambaan, tapi Terbesar di Indonesia

Oleh Islahuddin | Senin, 1 Mei 2017 | Beritagar.ID

 

 

 

 

 

The SMERU Research Institute dalam ringkasan riset berjudul Hidup di Tengah Gejolak Harga Pangan (2012-2015) yang dilansir pada Maret 2016 memaparkan temuan tentang persepsi kalangan muda terhadap pertanian.

Riset dilakukan di di tiga desa sampel yang memiliki karakteristik wilayah berbeda. Desa sampel Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Desa sampel berikutnya adalah di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Ketiga desa mewakili daerah yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian di sektor pertanian, terutama sebagai petani tanaman pangan padi, dan mewakili daerah semi perkotaan yang sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian di sektor industri. Desa dari Kalimantan mewakili karakteristik daerah yang mata pencaharian utama masyarakatnya di sektor perkebunan.

Temuan riset itu menguatkan dugaan kian pudarnya minat untuk bekerja di bidang pertanian di kalangan anak muda; bekerja di bidang pertanian bagi kalangan muda bukan jadi pilihan utama. Sektor ini dianggap lemah secara daya saing, jika pun ada yang tertarik bertani, karena pilihan terakhir atau tidak punya pilihan pekerjaan lain.

Adapun saran yang diajukan dalam riset itu, untuk memikat kalangan muda bekerja di sektor pertanian diperlukan sejumlah usaha dan upaya keras dan mengikuti perkembangan zaman di sektor ini yaitu,

"...penggunaan teknologi modern, keragaman bidang pertanian, ketersediaan lahan pertanian, kemudahan mengakses input pertanian, dan peningkatan keterampilan dan pengetahuan ilmu pertanian yang didapatkan dari penyuluh dan sekolah pertanian...."

Temuan SMERU, senada dengan kajian Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) lewat buku Mencari Petani Muda: Ikhtiar Membangun Masa Depan Pertanian.

 

Selengkapnya...