Studi Diagnostik Pekerja Anak di Wilayah Perdesaan (dengan Penekanan Khusus pada Perkebunan Tembakau Rakyat)


ABSTRAK

Studi ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa di tengah upaya pemerintah untuk menghapuskan pekerja anak, informasi mengenai kondisi pekerja anak di Indonesia, khususnya di sektor tembakau, sangat terbatas. Studi ini berupaya untuk memotret kondisi dan memahami akar penyebab keberadaan pekerja anak di dua kabupaten penghasil tembakau terbesar di Indonesia–Jember dan Lombok Timur. Studi ini mengumpulkan informasi mengenai aktivitas dan kerja di perkebunan tembakau dari anak-anak, orang tua, dan pemangku kepentingan terkait. Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif melalui survei rumah tangga yang mencakup 1.000 rumah tangga di 10 desa, serta wawancara mendalam, diskusi kelompok terfokus, dan foto bercerita.

Studi ini menemukan tingginya prevalensi pekerja anak dalam usaha perkebunan tembakau rakyat. Sebagian besar pekerja anak terpapar pekerjaan berbahaya, dengan hanya sebagian kecil yang menggunakan peralatan pelindung. Sebagian besar anak-anak ini masih terdaftar di sekolah, walaupun proporsi anak yang putus sekolah cenderung lebih tinggi pada kelompok usia yang lebih tua. Kendati demikian, pekerja anak di perkebunan tembakau merupakan fenomena musiman, dan ia mencapai puncaknya selama musim panen. Peluang untuk menjadi pekerja anak secara signifikan lebih tinggi pada anak yang berusia lebih tua, anak dari rumah tangga buruh tani, dan anak yang tinggal di dusun dengan prevalensi pekerja anak yang tinggi. Sementara itu, baik kepemilikan tanah maupun status kontrak tidak secara signifikan mengurangi peluang anak untuk terlibat dalam kerja di perkebunan tembakau.

Analisis kontekstual yang lebih dalam mengungkap bahwa tingginya prevalensi pekerja anak di desa-desa studi berakar pada norma dan kebiasaan setempat yang memandang keterlibatan anak di perkebunan tembakau sebagai hal yang positif dan menjadi bagian yang perlu dilakukan dalam proses mendidik anak tentang pertanian dan tentang memikul tanggung jawab. Di sisi lain, peraturan yang ada tidak memberikan penjelasan terperinci mengenai jenis-jenis pekerjaan di perkebunan tembakau yang dianggap berbahaya. Selain Itu, kombinasi faktor-faktor berikut ini mendorong anak menjadi pekerja anak: (i) kurangnya kesadaran dan pengetahuan mengenai dampak negatif menjadi pekerja anak dan terpapar pekerjaan berbahaya, (ii) kurangnya fasilitas yang memberi anak kesempatan untuk terlibat dalam aktivitas-aktivitas lain, dan (iii) manfaat ekonomi bagi rumah tangga dan anak-anak itu sendiri. Sementara itu, kelebihan permintaan akan tenaga kerja selama musim panen tembakau juga menjadi faktor yang menarik banyak anak untuk bekerja.

Rangkaian wawancara dan diskusi selama penelitian ini telah mengidentifikasi sumber daya yang ada dan dapat digunakan untuk mengembangkan dan melaksanakan upaya yang lebih berkelanjutan dalam rangka menghapus pekerja anak di wilayah pertanian perdesaan, khususnya di perkebunan tembakau. Berdasarkan semua temuan studi ini, kami merekomendasikan langkah-langkah guna memperbaiki kebijakan nasional untuk penghapusan pekerja anak di perkebunan tembakau dan program percontohan yang dapat dimulai di Lombok Timur dan di Jember.

Kata kunci: pekerja anak, perkebunan tembakau, Jember, Lombok Timur