Menimbang Risiko, Membangun Rasa Aman di Tengah Pandemi

Sejak kasus pertama COVID-19 diumumkan pemerintah hingga tiga bulan sesudahnya, persepsi masyarakat mengenai risiko COVID-19 berubah-ubah.

Kondisi di empat komunitas dalam artikel ini menunjukkan bahwa tingkat pemahaman tentang risiko dalam wujud kepatuhan masyarakat tidak bisa lepas dari faktor sosial-budaya, serta faktor respons kebijakan dan penanganan COVID-19.

Mengingat bahwa faktor risiko yang dihadapi tiap orang dan kelompok tidak sama, begitu pula respons kepatuhan masyarakat yang bervariasi, maka mengomunikasikan risiko COVID-19 kepada berbagai kelompok masyarakat dengan mempertimbangkan kondisi sosial-ekonomi yang ada menjadi sangat penting untuk dilakukan dengan segera.

Liku-Liku Peningkatan Kapasitas Pengetesan COVID-19 dengan Metode PCR

Berdasarkan penelusuran berita media massa sepanjang Januari–Juni 2020, penyebab permasalahan kekurangsiapan pemerintah dalam hal penanganan pandemi COVID-19 adalah kurangnya jumlah petugas laboratorium dan alat pengetesan untuk metode polymerase chain reaction (PCR). Selain itu, kebijakan yang berubah-ubah dan tidak efektif menunjukkan kekurangsiapan pemerintah dalam menghadapi pandemi ini. Penguatan koordinasi antara Pemerintah Pusat dan pemerintah daerah, juga antara pemerintah dan sektor swasta, perlu diprioritaskan guna melancarkan pengetesan COVID-19 di Indonesia. Pemerintah juga perlu mengembangkan sistem pendataan terpadu yang selalu diperbarui agar persebaran kebutuhan akan analis dan perlengkapan laboratorium dapat terus dipantau.

Daftar Responden Penerima Tanda Penghargaan Survei Daring Studi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)

The SMERU Research Institute telah melaksanakan survei daring terkait PJJ pada periode 15 April s.d. 10 Mei 2020. Survei daring tersebut telah diikuti oleh sekitar 490 responden. Kami telah memilih secara acak 10 orang yang beruntung untuk mendapatkan tanda penghargaan sebesar Rp500.000 per orang. Berikut adalah nama-nama responden terpilih.

Menilik Efektivitas Bantuan Langsung Tunai

Pandemi COVID-19 di Indonesia telah mengakibatkan krisis sosial-ekonomi yang dampaknya dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama kelompok 40% masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah. Untuk menangani krisis tersebut, pemerintah telah menerapkan program-program jaring pengaman sosial (JPS) yang mencakup, salah satunya, bantuan langsung tunai. Pertanyaan pentingnya adalah seberapa efektif penerapan berbagai program tersebut dijalankan oleh pemerintah, baik pada tingkat nasional maupun daerah.

Halaman