Dampak Heterogenitas Ketersediaan Internet pada Hasil (Outcome) Pasar Tenaga Kerja Perempuan di Negara Ekonomi Berkembang: Bukti dari Indonesia

Niken Kusumawardhani , Daniel Suryadarma, Nurmala Selly Saputri, Rezanti Putri Pramana
2020

Gambaran dan Perkembangan

Latar Belakang

Perkembangan terbaru dalam mempersempit kesenjangan gender di bidang pendidikan, kesehatan, dan keterwakilan politik belum diiringi dengan peningkatan hasil (outcome) pasar tenaga kerja perempuan atau pemberdayaan ekonomi perempuan secara umum. Agar perempuan berdaya secara ekonomi dan sosial, diperlukan peningkatan kuantitas dan kualitas pekerjaan perempuan, serta penanggulangan rintangan gender dalam mengakses kesempatan kerja dan segregasi di pasar tenaga kerja.

Pencapaian kesetaraan gender pada hasil (outcome) pasar tenaga kerja sangat bergantung pada pengadopsian kebijakan yang mengatasi “beban ganda” yang khususnya dihadapi perempuan berpenghasilan rendah, yaitu mencari nafkah untuk keluarga serta mengurus anggota rumah tangga lain.

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang pesat bedampak signifikan terhadap ekonomi. Internet memungkinkan pengiriman informasi dengan biaya lebih rendah dan mendorong pengembangan inovasi baru di bidang ekonomi. Teknologi digital dapat meningkatkan fleksibilitas kerja, tetapi dapat pula membuat pekerjaan dengan keterampilan rendah menjadi tidak dibutuhkan lagi akibat otomatisasi. Namun, ketersediaan internet dapat membuka kesempatan baru bahkan untuk individu berketerampilan rendah. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji heterogenitas dampak internet pada hasil (outcome) pasar tenaga kerja perempuan.

Konteks Indonesia terkait isu ini menarik untuk dikaji. Tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan di Indonesia tidak beranjak dari angka 52% dalam dua dekade terakhir walaupun ekonomi tumbuh pesat, tingkat kesuburan menurun, dan pencapaian pendidikan perempuan meningkat. Di sisi lain, Indonesia telah mengalami peningkatan ketersediaan internet yang pesat. Antara 2010 dan 2018, askes internet di perkotaan meningkat dari 30% ke 72% untuk individu berpenghasilan tinggi dan dari 7% ke 32% untuk individu berpenghasilan rendah. Di perdesaan, pertumbuhannya bahkan lebih pesat, yaitu dari 13% ke 50% untuk individu berpenghasilan tinggi dan dari 2% ke 20% untuk individu berpenghasilan rendah.

 

Objective

Studi kami bertujuan menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian berikut.

  1. Apa dampak rata-rata ketersediaan internet pada hasil (outcome) pasar tenaga kerja perempuan? Apakah ada heterogenitas dalam dampak ketersediaan internet menurut pendidikan dan umur?
  2. Melalui mekanisme apa ketersediaan internet memengaruhi perempuan dalam memutuskan partisipasi angkatan kerja mereka, terutama pada subsampel perempuan yang baru menjadi ibu?

Pendekatan kuantitatif akan menjawab pertanyaan pertama, sedangkan pertanyaan kedua akan dijawab menggunakan pendekatan kualitatif.

 

Methodology

Kami akan menggunakan set data longitudinal tingkat kabupaten dari 2007 sampai 2018 yang mencakup periode sebelum dan selama pertumbuhan internet yang pesat di Indonesia. Karena tiap subkelompok pekerja cenderung merespons perubahan teknologi secara berbeda, studi ini akan menekankan pada dampak internet yang beragam. Analisis heterogenitas kami akan mengkaji subsampel perempuan berpendidikan rendah, perempuan berpendidikan tinggi, perempuan muda, dan perempuan yang berusia lebih tua. Porsi kualitatif studi ini akan mengkaji peran internet dalam memfasilitasi atau menghambat proses transisi ibu pekerja yang baru melahirkan, yaitu subkelompok perempuan yang diprediksi paling terpengaruh oleh aksesibilitas internet yang terus tumbuh.


Bagikan Postingan Ini