Perkembangan dan Stagnasi Mata Pencaharian Pekerja Informal di Negara Ekonomi Berkembang: Bukti Jangka Panjang dari Indonesia

Daniel Suryadarma , Asep Suryahadi, Mayang Rizky
2020

Gambaran dan Perkembangan

Latar belakang

United Nations University World Institute for Development Economics Research (UNU-WIDER) tengah menyusun satu terbitan jurnal khusus dan satu buku dengan fokus untuk memahami kendala peningkatan mata pencaharian usaha informal serta pekerja wiraswasta dan upahan di sektor informal sebagai bagian dari proyek baru lembaga ini, yaitu “Mentransformasikan Pekerjaan dan Mata Pencaharian Informal”.

Seiring dengan adanya “deindustrialisasi prematur” dan tumbuhnya sektor jasa informal, arus menuju informalisasi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah berkemungkinan menguat di masa mendatang. Tantangannya bagi pembuat kebijakan kemudian adalah mencari cara untuk mendorong pergerakan pekerja dari sektor informal di tingkat rendah yang relatif tak produktif ke sektor formal yang lebih produktif dan, secara bersamaan, memberikan peluang bagi perusahaan-perusahaan informal yang lebih dinamis untuk tumbuh dan bagi mereka yang bekerja di perusahaan-perusahaan ini untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan bergaji besar, meski tetap bersifat informal. Namun, dalam upaya ini, para pembuat kebijakan terkendala kurangnya bukti yang tersedia terkait penyebab informalitas dan mekanisme paling efektif untuk mengurangi informalitas dan menguatkan pekerjaan layak di sektor ini.

 

Tujuan

Proyek penelitian ini bertujuan mengatasi kesenjangan-kesenjangan berikut ini:

  1. Untuk mengidentifikasi karakteristik mata pencaharian pekerja di segmen-segmen pekerjaan informal yang berbeda; memberikan pemahaman yang lebih baik tentang faktor-faktor yang mendorong pekerja untuk terlibat dalam aktivitas-aktivitas tersebut; dan mengeksplorasi unsur-unsur dalam pilihan yang diambil pekerja serta tekanan yang mereka hadapi, dan faktor-faktor kontekstual terkait.
  2. Untuk mendeteksi tantangan dan kendala utama yang membuat pekerja di tiap segmen tidak dapat beralih ke mata pencaharian yang lebih menghasilkan dan stabil.
  3. Untuk memberikan panduan tentang cara mendorong peralihan ini dan meningkatkan mata pencaharian para pekerja di sektor informal.

 

Metodologi

Kami mengusulkan pertanyaan-pertanyaan penelitian berikut ini untuk dijawab:

  1. Bagaimanakah proporsi individu yang pekerjaan pertamanya adalah pekerjaan informal tingkat rendah, dibandingkan dengan individu yang pekerjaan pertamanya adalah pekerjaan informal tingkat tinggi atau pekerjaan formal? Bagaimanakah karakteristik individu yang pekerjaan pertamanya adalah pekerjaan informal tingkat rendah, dibandingkan dengan individu yang pekerjaan pertamanya adalah pekerjaan informal tingkat tinggi atau pekerjaan formal?
     
  2. Sudahkah poin (1) berubah dalam dua dekade terakhir, ketika Indonesia sudah menjadi negara berpenghasilan menengah
     
  3. Dari semua individu yang pekerjaan pertamanya adalah pekerjaan informal tingkat rendah, bagaimanakah proporsi individu yang beralih ke pekerjaan informal tingkat tinggi atau pekerjaan formal? Apakah peralihan tersebut bersifat permanen atau sementara? Apakah jalur dari pekerjaan informal tingkat rendah ke pekerjaan formal selalu melalui pekerjaan informal tingkat tinggi? Bagaimanakah karakteristik individu yang berhasil melakukan peralihan?
     
  4. Berapakah kelebihan penghasilan dari peralihan ke pekerjaan informal tingkat tinggi atau pekerjaan formal, relatif terhadap penghasilan jika tetap bertahan pada pekerjaan informal tingkat rendah?

  
Dalam studi ini, fokus kami adalah pada individu, bukan pada perusahaan. Secara khusus, kami membatasi sampel kami pada pekerja laki-laki di sektor nonpertanian. Kami menggunakan informasi tentang status dan tipe pekerjaan individu untuk membuat tiga kelompok: pekerja informal tingkat rendah, pekerja informal tingkat tinggi, dan pekerja formal.

Tiga pertanyaan penelitian pertama merupakan bagian deskriptif studi kami. Pertanyaan penelitian pertama dan kedua adalah tabulasi menurut kelompok usia dan kohort dengan menggunakan kelima gelombang Survei Aspek Kehidupan Rumah Tangga Indonesia (Sakerti). Kami akan menyertakan variabel-variabel penjelas berikut: capaian pendidikan, tempat tinggal perkotaan/perdesaan jika sampel penelitiannya adalah muda, capaian pendidikan orang tua, dan pekerjaan orang tua. Selain itu, Sakerti mengumpulkan informasi yang dapat digunakan sebagai proksi untuk modal manusia: tinggi badan, hasil (outcome) kesehatan ketika kanak-kanak (untuk subsampel), dan keterampilan kognitif (untuk subsampel).

Untuk menjawab pertanyaan penelitian ketiga, sampel utama kami terdiri atas individu berusia 15 tahun ke atas dari gelombang Sakerti 1993, yakni gelombang pertama Sakerti. Kami akan terlebih dahulu mengonstruksikan tipe pekerjaan sampel (informal tingkat rendah, informal tingkat tinggi, atau formal) per tahun, mulai 1988 sampai 2014. Kami dapat menciptakan indikator-indikator hasil (outcome), seperti masa kerja, jumlah peralihan antartipe pekerjaan, dan indikator beralih secara permanen. Setelah itu, kami akan berfokus pada sampel yang pekerjaan pertamanya adalah pekerjaan informal tingkat rendah.

Kami akan membagi sampel menjadi tiga kelompok dengan menggunakan informasi pekerjaan jangka panjang mereka: selalu informal tingkat rendah, beralih ke informal tingkat tinggi, dan beralih ke formal. Kami akan menggunakan variabel-variabel penjelas yang sama sebagaimana di atas, tetapi hanya menggunakan kondisi 1993 untuk menghindari endogenitas.

Untuk menjawab pertanyaan penelitian keempat, kami akan memperkirakan estimasi tingkat individu seperti diperlihatkan pada Persamaan 1:

y_it= α+β_1 〖HI〗_it+β_2 F_it+β_X X_it+ε_it    (1)

Kami mengadopsi Persamaan 1 dari spesifikasi Mincer baseline dalam Levine dan Rubinstein (2017). Variabel hasil (outcome) yit adalah tingkat pendapatan individu i pada tahun t, untuk memungkinkan pendapatan negatif bagi pekerja informal. HIit sama dengan satu jika individu i pada tahun t menjadi pekerja informal tingkat tinggi. Fit sama dengan satu jika individu i pada tahun t menjadi pekerja formal. Variabel kontrol Xit terdiri atas potensi tingkat pengalaman dan pendidikan. Yang lebih penting, data ini membuat kami dapat mengendalikan tren waktu linier khusus individu (individual-specific linear time trend) dan efek tetap individu (individual fixed effects). Oleh karenanya, kami meniadakan heterogenitas invarian waktu individu yang tidak teramati (individual time-invariant unobserved heterogeneity) dan tren tingkat individu ke dalam pilihan pekerjaan. Mengingat berbagai bias pemilihan dapat mengganggu estimasi kami, kami akan mengikuti Levine dan Rubinstein (2017) dalam melakukan berbagai uji ketahanan (robustness checks).


Bagikan Postingan Ini