Halo Pembaca,
Setiap 17 Oktober, kita memperingati Hari Internasional untuk Pemberantasan Kemiskinan. Bagi SMERU, momentum ini menjadi pengingat misi utama kami, yakni untuk menghadirkan bukti agar kebijakan benar-benar berpihak pada mereka yang paling rentan.
Tahun ini, kami menggelar seminar yang mempertanyakan apakah metode penghitungan garis kemiskinan nasional, yang dipakai sejak 1998, masih memadai. Dengan meningkatnya standar hidup masyarakat, SMERU mengusulkan pergeseran acuan dari batas minimum untuk bertahan hidup menuju standar minimum untuk hidup layak.
Usulan ini kami diskusikan secara kritis bersama Badan Pusat Statistik, selaku penyelenggara statistik resmi yang menghitung angka kemiskinan, dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, selaku perencana pembangunan nasional. Anda bisa menyimak diskusi selengkapnya melalui rekaman seminar tersebut.
Masih seputar kemiskinan, kami mengajak Anda membaca catatan kebijakan tentang perlindungan sosial yang belum menjangkau kerentanan iklim petani lahan kering, nelayan tangkap, dan pembudidaya rumput laut. Ada pula blog tentang pertumbuhan ekonomi yang belum dinikmati semua kalangan. Tak kalah penting, ada studi kami tahun 2014 yang masih relevan, yaitu tentang pentingnya memperbarui data penerima bantuan secara berkala agar program benar-benar tepat sasaran.
Kami juga mengingatkan, jika Anda ingin menerbitkan artikel di jurnal ilmiah, ikutilah pelatihan SMERU Learning Centre pada 21 November mendatang.
Seperti biasa, kami menantikan masukan Anda melalui comms[at]smeru.or.id.
Widjajanti Isdijoso
Direktur, The SMERU Research Institute


