Menjaga Arah di Tengah Perubahan: 25 Tahun Perjalanan SMERU

25 Februari 2026

Awal 2026 menandai seperempat abad kiprah SMERU dalam mengawal perumusan kebijakan berbasis bukti. Dalam peringatan ulang tahun kami yang ke-25 pada tahun ini, saya ingin menoleh sejenak pada perjalanan panjang SMERU dalam menyediakan bukti melalui riset yang berkualitas demi perumusan kebijakan publik yang lebih tepat sasaran.
   

Lahir di Tengah Momentum Perubahan

SMERU lahir di tengah gejolak transisi besar Indonesia pada akhir era 90-an. Kami mulai berkiprah secara independen pada 2001, di tengah masa pemulihan pasca-krisis keuangan Asia, yang juga bertepatan dengan dimulainya era reformasi dan otonomi daerah. Di tengah momentum bersejarah tersebut, SMERU hadir untuk memastikan isu sosial dan ekonomi senantiasa diperhitungkan dalam perumusan kebijakan publik.

Sejak awal, kami berfokus pada penelitian yang dapat memberikan masukan bagi pengembangan kebijakan sosial dan ekonomi, khususnya yang berkaitan dengan sistem perlindungan sosial, desentralisasi pemerintahan dan otonomi daerah, serta kemiskinan dan kerentanan. Tujuan kami sejak dulu hingga kini tetap sama, yaitu memastikan pembangunan memberi manfaat yang lebih besar bagi penduduk miskin dan rentan.

Memulai kiprah sebagai lembaga nonpemerintah yang berfokus pada penelitian tidaklah mudah. Pada masa-masa awal, kami bertumbuh dengan dukungan pendanaan jangka pendek dari berbagai lembaga bilateral, filantropi internasional, dan trust fund. Dukungan tersebut memungkinkan kami membangun kapasitas dan reputasi dengan melakukan penelitian yang berkualitas serta selalu menyampaikan hasil penelitian secara jujur kepada pihak-pihak yang relevan.

Akumulasi pengetahuan, hubungan, serta jejaring yang telah dimiliki para pendiri dan peneliti menjadi modal dasar bagi pengembangan lembaga. Dengan memanfatkan modal awal tersebut, sambil terus menjaga kualitas dan indepensi penelitian, kami secara bertahap mendapat kepercayaan yang lebih luas, baik dari lembaga pendanaan maupun para pengambil kebijakan yang terus mendapat masukan dan dilibatkan dalam berbagai dialog kebijakan.    

 

Menjadi Mitra Kritis dalam Perumusan Kebijakan

Sejak awal kami menyadari bahwa proses merumuskan kebijakan publik tidak linier, terlebih dalam konteks transformasi menuju demokratisasi ketika ruang partisipasi publik makin terbuka. Banyak pembuat kebijakan menghadapi dinamika baru yang kompleks dan membutuhkan masukan yang kredibel. Di sinilah kami melihat peran kami: sebagai mitra kritis yang memberikan masukan konstruktif dan berbasis penelitian agar kebijakan sosial dan ekonomi dapat semakin berpihak pada masyarakat miskin dan rentan (pro poor).

Untuk lebih memahami alur pemikiran dan tantangan dari sudut pandang pengambil kebijakan, kami memilih untuk melibatkan mereka sejak tahap awal penelitian (perancangan) hingga penyusunan rekomendasi kebijakan. Proses ini membantu menjembatani dunia riset dan dunia kebijakan, sekaligus membangun kepercayaan terhadap temuan yang kami hasilkan.

Tentu saja tidak semua hasil penelitian mudah diterima pengambil kebijakan. Namun, melalui dialog yang terbuka dan berkesinambungan, tumbuh rasa saling percaya dan pemahaman untuk bersama-sama mencari solusi kebijakan yang terbaik tanpa mengompromikan independensi penelitian.

 

Menjembatani Pusat, Daerah, dan Publik

Meski banyak bekerja di tingkat nasional, kami menyadari bahwa penguatan kapasitas pembuat kebijakan di daerah sama pentingnya. Kebijakan yang baik perlu dipahami dan diterjemahkan sesuai konteks lokal. Berangkat dari kesadaran ini, kami menggagas Forum Pembangunan Daerah, yaitu ruang dialog yang mempertemukan pemerintah daerah, pembuat kebijakan di tingkat pusat, serta temuan penelitian yang relevan dengan tantangan pembangunan di daerah. Melalui forum ini, kami berupaya menjembatani percakapan kebijakan agar antara pusat dan daerah lebih terhubung.

Sejak awal, kami juga memahami bahwa memengaruhi kebijakan publik tidak cukup hanya melalui diskusi dengan pengambil kebijakan. Publik memiliki peran penting dalam proses tersebut. Oleh karena itu, kami berpendapat hasil penelitian harus dapat diakses secara luas. Strategi diseminasi kami pun berkembang; dari mengirimkan laporan cetak kepada pemangku kepentingan menjadi membangun dialog aktif dengan mereka sejak tahap perencanaan hingga perumusan rekomendasi.

Kami juga membuka akses informasi seluas-luasnya melalui penguatan jejaring masyarakat sipil serta adaptasi ke kanal digital dan media sosial agar gagasan SMERU tetap relevan dan inklusif. Dari perjalanan ini, kami belajar bahwa advokasi bukan sekadar “memberi tahu” pengambil kebijakan, melainkan membangun ekosistem informasi yang melibatkan publik. Keterlibatan yang luas menciptakan dukungan sosial yang membuat kebijakan berbasis bukti semakin kuat dan sulit diabaikan.

 

Memperluas Cakupan, Menjaga Keberlanjutan

Seiring waktu, kami menyadari bahwa kemiskinan tidak pernah berdiri sendiri. Kemiskinan bersinggungan dengan usia, gender, disabilitas, hingga letak geografis. Pemahaman inilah yang mendorong kami untuk berani melangkah keluar dari zona nyaman dan mengeksplorasi isu yang semakin beragam—mulai dari tata kelola desa, dampak pandemi terhadap kehidupan masyarakat, hingga tantangan masa depan seperti digitalisasi, krisis iklim, dan transisi energi. Menurut pandangan kami, kebijakan di bidang apa pun perlu mempertimbangkan kemiskinan, kerentanan, dan ketimpangan agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara lebih merata.

Kami menghadapi setidaknya dua tantangan utama ketika mulai meneliti isu-isu baru. Tantangan pertama dari sisi internal terkait pemahaman isu. Penguasaan isu sangat penting untuk mengidentifikasi persoalan terkait kemiskinan yang ada atau berpotensi untuk terjadi. Oleh karena itu, kami harus terus belajar—memperdalam literatur, berdiskusi dengan para ahli, dan bekerja sama dengan berbagai pihak yang berkepentingan. Tantangan kedua datang dari sektor dan pengambil kebijakan yang belum atau kurang melihat pentingnya aspek kemiskinan. Kebanyakan dari mereka melihat target pencapaian sektoral sebagai prioritas utama tanpa mempertimbangkan konsekuensi sosial yang timbul dalam proses untuk mencapai target tersebut. Diperlukan kesabaran dan ketekunan untuk terus menyampaikan masukan yang konstruktif agar konsekuensi sosial dari setiap kebijakan turut menjadi pertimbangan.

Di tengah perluasan isu dan peran tersebut, kami juga menghadapi dinamika pendanaan penelitian yang terus berubah. Secara umum, pendanaan untuk riset relatif lebih kecil dibandingkan program yang dampaknya langsung terlihat. Pergeseran prioritas donor global maupun domestik menjadi tantangan nyata bagi lembaga independen seperti SMERU. Namun, di balik ketidakpastian ini, kami justru menemukan kejelasan misi: bahwa di tengah perubahan apa pun, suara kelompok yang kurang beruntung harus tetap memiliki pembela.

Kami pun menyadari bahwa keberlanjutan SMERU bergantung pada kemampuan kami untuk tetap relevan tanpa mengorbankan integritas. Oleh karena itu, kami memperluas kerja sama dengan lembaga penelitian di dalam dan luar negeri, serta membuka kolaborasi dengan sektor swasta untuk memperkuat kemandirian lembaga. Dengan semakin terbatasnya pendanaan penelitian, kami perlu mengembangkan pendekatan pendanaan baru untuk memastikan upaya berbagi pengetahuan tetap berlanjut. Kami mulai menerapkan pendekatan user pay sehingga penerima manfaat turut berkontribusi atas layanan dan pengetahuan yang diperoleh. Dari sinilah SMERU Learning Centre kami hadirkan sebagai wadah transfer pengetahuan tersebut.

 

Melangkah Bersama ke Masa Depan

Menoleh kembali pada perjalanan seperempat abad ini, kami dipenuhi rasa syukur atas dukungan dari para mitra pembangunan, lembaga donor, pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan masyarakat sipil yang telah berjalan beriringan bersama kami. Tanpa kolaborasi dan dialog yang terus terjaga, upaya menghadirkan kebijakan berbasis bukti tidak akan memiliki daya dorong yang kuat. Kepercayaan yang Anda berikan adalah energi yang menjaga integritas penelitian kami tetap menyala.

Peringatan 25 tahun ini bukanlah akhir perjalanan kami, melainkan titik pijak untuk melangkah lebih jauh. Ke depan, SMERU berkomitmen untuk terus bertransformasi menjadi pusat keunggulan yang lebih inklusif dan adaptif. Kami akan memperkuat kolaborasi lintas sektor dan membekali generasi muda dengan perangkat pengetahuan untuk menjawab tantangan zaman yang kian kompleks. Kami mengundang Anda untuk terus berjalan bersama kami, memastikan setiap kebijakan publik di masa depan tetap berpijak pada bukti, empati, dan keberpihakan pada mereka yang paling membutuhkan.
  

Bagikan laman ini

Penulis

Director, Senior Researcher
Penafian:
Posting blog SMERU mencerminkan pandangan penulis dan tidak niscaya mewakili pandangan organisasi atau penyandang dananya.