Aspek Jender Semasa Krisis

Pemantauan, Evaluasi, dan Pembelajaran
Abstrak 

Apabila kita sempatkan membuka-buka kembali Newsletter SMERU lima edisi terdahulu, kita diingatkan betapa sedikitnya kita mengungkap salah satu aspek yang teramat penting, yaitu aspek 'jender'. Seringkali kita menyadari betapa penting sebenarnya aspek ini dan kerap membicarakannya. Nyatanya kita hidup dengannya, namun kadang kita lupa untuk memasukkan dalam agenda kita. 'Jender', tidak hanya masalah perempuan, atau masalah laki-laki dan perempuan, tetapi lebih dari itu, 'jender' adalah masalah hak manusia - 'jender' adalah masalah pembangunan. Pada edisi kali ini kami mengungkap secara khusus dimensi ‘jender’ dilihat dari berbagai persoalan yang berkaitan dengan krisis. Dengan keterbatasan tempat yang tersedia, pertama-tama kami menampilkan ulasan singkat mengapa ‘jender’ sangat penting dalam ekonomi, dalam pembangunan, dalam mengevaluasi dampak krisis, dan pada akhirnya, dalam mengatasi krisis itu sendiri. Kami juga menyediakan tempat yang cukup luas untuk berbagai organisasi agar kami dapat berbagi pandangan mengenai ‘jender’ dan krisis dengan para pembaca. Satu di antara banyak lembaga swadaya masyarakat yang memfokuskan diri pada pengembangan perempuan menceritakan pengalaman dan keyakinan bahwa penyampaian program, termasuk program bantuan akan lebih efektif apabila melalui perempuan. Hal ini juga diungkapkan oleh seorang ahli 'jender' bahwa perempuan dan gadis muda ikut mengalami dampak krisis tetapi mereka tidak selalu memperoleh manfaat dari program.

Krisis yang kini menimpa bangsa Indonesia, menurut salah seorang anggota komisi nasional anti kekerasan terhadap perempuan seringkali diterjemahkan agak sempit, yaitu krisis ekonomi. Menurutnya, guna memahami krisis yang menimpa secara luas dan mendasar, perlu dikaitkan dengan krisis politik dan sosial. Termasuk apa yang telah menimpa perempuan di Ambon dan Sambas, perkosaan terhadap perempuan Indonesia etnis Cina bulan Mei tahun lalu, dan bukti meningkatnya kekerasan dalam rumah tangga terhadap perempuan. Hasil dari lapangan ternyata masih memperlihatkan perbedaan antara perempuan dan laki-laki, baik sebagai penerima dampak krisis maupun bagaimana cara mereka menyiasati krisis. Kita akan menemukannya pada kolom ‘From the Field’ yang menyoroti buruh pabrik perempuan. Kita juga melihat bahwa pergerakan perempuan Indonesia semakin menggema pada era reformasi. Perempuan semakin berani menyuarakan haknya, berawal dari demonstrasi menuntut turunnya harga susu. Akan tetapi ketika perempuan semakin berpartisipasi aktif, ‘Di Mana Perempuan’ mengilustrasikan bahwa kenyataannya masih terlalu pagi untuk berbangga hati: sewaktu perempuan didekati dan didorong untuk ambil bagian dalam forum kemasyarakatan yang diselenggarakan oleh Tim SMERU di Kamal Muara - Jakarta Utara, hanya 9 perempuan yang hadir dari total 54 peserta. Kami mengakhiri edisi ini dengan data terkini dari Survei Kehidupan Keluarga Indonesia tentang bagaimana menghadapi krisis dilihat dari perbedaan ‘jender’.

Hal yang menggembirakan adalah semakin banyak orang membicarakan 'jender' dan memahaminya. SMERU pun tampaknya tidak dapat menghindar untuk lebih banyak mengungkap fakta dan menerapkannya dalam hidup keseharian anggotanya. Dengan jumlah perempuan separuh dari keseluruhan anggota, kami tidak hanya peduli tentang jumlah, tetapi juga kualifikasi - hak dan kewajiban yang tidak dibedakan atas dasar perempuan atau laki-laki - walau tanpa melupakan kodratnya sebagai perempuan ataupun laki-laki.

Bagikan laman ini