Percepatan Pemulihan Pascapandemi melalui Transformasi Digital yang Inklusif

24 September 2022

Transformasi digital berperan penting dalam mengatasi berbagai isu pembangunan, termasuk dampak pandemi penyakit koronavirus 2019 (COVID-19). Pandemi COVID-19 yang terjadi selama lebih dari dua tahun ini menjadi momentum bagi Indonesia untuk berbenah dan memastikan bahwa transformasi digital berjalan dengan baik dan dapat memberikan manfaat kepada semua kalangan, khususnya kelompok masyarakat miskin dan rentan. Transformasi digital perlu dilakukan dengan segera karena teknologi digital telah terbukti sangat bermanfaat untuk memitigasi dampak pandemi di beberapa sektor, misalnya, dengan mendukung kegiatan kerja secara dalam jaringan (daring) serta mendorong digitalisasi dalam berbisnis (niaga elektronik/e-commerce).

Namun, pandemi COVID-19 juga secara nyata menunjukkan pentingnya menjembatani kesenjangan digital di antara individu/rumah tangga, pekerja/pelaku usaha, lembaga pemerintah, dan perusahaan swasta. Berdasarkan data Survei Sosial-Ekonomi Nasional (Susenas) dan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2021, sekitar 36% individu berusia 5 tahun ke atas masih belum mengakses internet dan 64% pekerja/pelaku usaha berusia 15 tahun ke atas belum menggunakan internet dalam pekerjaan utamanya. Kondisi ini diperparah dengan masih rendahnya digitalisasi di sektor pemerintahan dan swasta. Berdasarkan Indeks Adopsi Digital 2016 dari Bank Dunia, Indonesia menempati peringkat kelima di antara negara-negara Asia Tenggara untuk subindeks pemerintahan dan peringkat ketujuh untuk subindeks bisnis.

Peluang untuk mendorong transformasi digital yang lebih inklusif perlu dioptimalkan sebagai upaya untuk mempercepat pemulihan pascapandemi COVID-19 di Indonesia. The SMERU Research Institute berusaha mengangkat isu tentang pentingnya mendorong transformasi digital yang lebih inklusif melalui penyelenggaraan seri seminar Forum Kajian Pembangunan (FKP).

Berikut rangkaian seminar yang mengangkat tema dari hasil penelitian SMERU mengenai transformasi digital yang lebih inklusif:

  

Meningkatkan Partisipasi Perempuan dalam Ekonomi Digital

Hibrida | 5 Oktober 2022, 13.00–15.15 (GMT+7)

Pandemi penyakit koronavirus 2019 (COVID-19) yang terjadi selama dua tahun terakhir tidak hanya merupakan tantangan pembangunan di Indonesia, tetapi juga sebuah momentum untuk berbenah diri. Salah satu sektor yang terdampak pandemi COVID-19 adalah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Ada banyak UMKM yang hampir tutup akibat penurunan pendapatan yang ditimbulkan oleh penurunan permintaan yang drastis (Badan Pusat Statistik/BPS, 2020). Di antara UMKM tersebut adalah usaha-usaha yang dimiliki perempuan. Data BPS tahun 2018 menunjukkan bahwa sekitar 64,5% UMKM di Indonesia dimiliki perempuan. Namun, beberapa studi sebelumnya menunjukkan bahwa usaha yang dimiliki perempuan mengalami dampak yang lebih berat daripada usaha yang dimiliki laki-laki karena sedikitnya pilihan untuk bertahan selama pandemi COVID-19. Salah satu solusi untuk menyelesaikan tantangan tersebut adalah digitalisasi. Menurut berbagai studi, transformasi digital telah terbukti memberikan banyak manfaat bagi hampir semua kalangan masyarakat, termasuk perempuan. Transformasi digital dapat menjadi alternatif mitigasi untuk mengurangi dampak pandemi COVID-19 di berbagai sektor kerja, misalnya, dengan mendukung kegiatan kerja secara dalam jaringan (daring) serta mendorong partisipasi dalam membuka usaha (e-commerce). Mengacu pada hal tersebut serta mengingat besarnya peran UMKM dalam penyerapan tenaga kerja di Indonesia, diperlukan kajian dan diskusi khusus terkait kebijakan-kebijakan yang dapat membantu UMKM untuk bertahan pada masa pandemi COVID-19 dari sisi gender. The SMERU Research Institute berusaha mengangkat diskusi tentang pentingnya mendorong partisipas perempuan dalam ekonomi digital melalui penyelenggaraan seminar Forum Kajian Pembangunan (FKP). 

Moderator: Muhammad Syukri (Peneliti Senior, SMERU)

Pembicara: 

  1. Nurmala Selly Saputri (Peneliti, SMERU)
    "Dampak Ketersediaan Internet pada Pasar Tenaga Kerja Perempuan di Indonesia" 
     

  2. Veto Tyas Indrio (Peneliti, SMERU)
    "Peran Perempuan Pelaku UMKM dalam Meningkatkan Penggunaan Internet dalam Rumah Tangga"
     

  3. Hening Wikan (Peneliti Junior, SMERU)
    "Dampak Respons Kebijakan COVID-19 pada UMKM Perempuan di Indonesia”
     

 Penanggap: Rahmia Hasniasari (Public Policy and Government Relations Lead, Tokopedia)

  
Tautan untuk mengunduh dokumen presentasi (pdf) dan mengakses rekaman video seminar: https://smeru.or.id/id/event-id/meningkatkan-partisipasi-perempuan-dalam-ekonomi-digital 

 

Mengembangkan Keterampilan Digital di Indonesia

Hibrida | 12 Oktober 2022, 09.30–11.45 (GMT+7)

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Indonesia 2020-2024 menekankan peran transformasi digital dalam mendorong produktivitas ekonomi dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Pemerintah Indonesia telah memiliki seperangkat peraturan yang mendorong transformasi digital (salah satu contohnya, Perpres No. 95/2018 tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik). Namun, belum ada kerangka kebijakan yang secara khusus mengarahkan pengembangan keterampilan digital di Indonesia. Kerangka kerja ini sangat penting, karena akan menentukan keberhasilan Indonesia dalam menerapkan dan memperoleh manfaat dari transformasi digital. Namun di saat yang sama, masih terdapat kesenjangan digital antara beberapa kelompok di masyrakat Indonesia. Sebagai contoh misalnya, berdasarkan data susenas dan sakernas di 2021 masih terdapat sekitar 36% individu usia 5 tahun ke atas yang belum mengakses internet dan 64% pekerja/pelaku usaha usia 15 tahun ke atas yang belum menggunakan internet dalam pekerjaan utamanya. Oleh karena itu, sebelum menyusun kerangka kerja pengempangan keterampilan digital di Indonesia penting untuk kita bersama mengetahui kondisi dan tantangan yang dihadapi dalam rangka mendorong pengembangan keterampilan digital. Berkenaan dengah hal tersebut, The SMERU Research Institute berusaha mengangkat diskusi tentang pentingnya mengembangkan keterampilan digital di Indoneisa melalui penyelenggaraan seminar Forum Kajian Pembangunan (FKP).  

Moderator: Palmira P. Bachtiar (Peneliti Senior, SMERU)
  
Pembicara: 
  1. Jonathan Farez Satyadharma (Peneliti Junior, SMERU)
    "Mendorong Transformasi Digital melalui Akselerasi Keterampilan Digital" 
      
  2. Adinova Fauri (Peneliti Departemen Ekonomi, CSIS)
    "Digital Literacy and Skills Toolkit Implementation in Indonesia: Experience and Lessons Learned from Small Survey” 

  
Penanggap: DR. Ir. Hedi M. Idris, M.Sc
(Kepala Pusat Pengembangan Profesi dan Sertifikasi, Kementerian Komunikasi dan Informatika) 

  
Tautan untuk mengunduh dokumen presentasi (pdf) dan mengakses rekaman video seminar: 
https://smeru.or.id/id/event-id/mengembangkan-keterampilan-digital-di-in...

  

Mengembangkan Kewirausahaan Pemuda Berbasis Teknologi Digital 

Daring | 19 Oktober 2022, 09.30–11.45 (GMT+7)

Tingginya angka pengangguran pemuda menjadi salah satu isu pembangunan di Indonesia. Studi World Bank (2020) menyebutkan bahwa angka pengangguran pemuda di Indonesia merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara. Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia melalui Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2019 menemukan bahwa hampir tiga perempat (74,02%) dari penganggur di Indonesia adalah pemuda. Data Sakernas tersebut juga memperlihatkan bahwa jumlah pemuda Indonesia yang menganggur, tidak bersekolah, dan tidak sedang mengikuti pelatihan (not in education, employment, or training/NEET) ternyata sangat tinggi. Sekitar seperempat dari seluruh pemuda di Indonesia berstatus NEET pada 2020, padahal dalam periode lima hingga sepuluh tahun ke depan, Indonesia diprediksi akan mendapatkan bonus demografi. Pemuda Indonesia diharapkan dapat memaksimalkan peluang tersebut dan menjadi mesin utama yang dapat menggerakan serta memimpin roda perekonomian. Meski demikan, pemuda Indonesia memiliki banyak keunggulan di pasar tenaga kerja. Salah satunya adalah penguasaan internet yang terbukti berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi melalui inklusi, efisiensi, dan inovasi (World Bank, 2016). Selain itu, pemuda Indonesia memiliki minat yang sangat tinggi untuk memiliki usaha. Pada 2020, setidaknya 20% dari pemuda yang bekerja berstatus pengusaha (BPS, 2020). Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memetakan pemanfaatan teknologi digital oleh pemuda wirausaha serta tantangan yang mereka hadapi dalam rangka mendorong dan mengembangkan kewirausahaan pemuda berbasis teknologi digital di Indonesia. Berkenaan dengan hal tersebut, The SMERU Research Institute berusaha menyajikan sebuah wadah untuk berdiskusi tentang tema tersebut melalui penyelenggaraan seminar Forum Kajian Pembangunan (FKP).

Moderator:  Fauzan Kemal M. (Peneliti Junior, SMERU) 
  
Pembicara: 
  1. Ana Rosidha Tamyis (Peneliti Senior, SMERU)
    "Teknologi Digital dalam Pengembangan Kewirausahaan Pemuda di Indonesia"
     
  2. Irsan Firmansyah, S. TP (CEO, The Local Enablers Research)

  
Penanggap: Yuana Rochma Astuti, S.E, M.Si (Direktur Tata Kelola Ekonomi Digital, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
  

Tautan untuk mengunduh dokumen presentasi (pdf) dan mengakses rekaman video seminar: https://smeru.or.id/id/event-id/mengembangkan-kewirausahaan-pemuda-berba...

 

Menciptakan Unicorn Baru: Talenta Digital dan Ekosistem yang Mendukung 

Daring | 26 Oktober 2022, 09.30–11.45 (GMT+7)

Pemerintah Indonesia telah meletakkan landasan yang kokoh untuk transformasi digital, termasuk upaya untuk mencetak unicorn baru, dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020–2024. Selain itu, Rencana Strategis Kementerian Komunikasi dan Informatika 2020–2024 berfokus pada pengembangan talenta digital dan startup (perusahaan rintisan). Startup memiliki peran penting dalam mentransformasikan ekonomi tradisional menjadi ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy). Startup merupakan bentuk usaha baru yang menawarkan produk dan layanan berbasis teknologi yang inovatif dan mudah ditingkatkan secara skala ekonomis (scalable), atau menawarkan produk dan layanan yang sudah ada dengan cara yang inovatif. Startup telah menunjukkan pertumbuhan tinggi dalam kurun waktu singkat. Secara khusus, startup yang bergerak di bidang agritech, cleantech, edtech, dan healthtech memiliki aspek sosial, pembangunan, dan keberlanjutan yang penting. Namun, startup teknologi membutuhkan dukungan finansial untuk dapat berkembang meskipun kebutuhan mereka mungkin berbeda dari perusahaan manufaktur tradisional yang lebih menekankan keterampilan daripada aset finansial. Selain itu, Indonesia merupakan rumah bagi banyak startup dan, oleh karena itu, startup di Indonesia perlu mendapatkan banyak dukungan dari pemerintah, misalnya, melalui pembangunan infrastruktur digital yang merata serta pemberlakuan regulasi yang mendukung tumbuh kembang startup. Semua pemangku kebijakan perlu memahami pentingnya ekosistem yang kondusif dan memahami berbagai isu terkait ekosistem tersebut, terutama isu ketersediaan talenta digital, dalam mendukung ekosistem startup teknologi di Indonesia. Berkaitan dengan hal tersebut, The SMERU Research Institute berusaha menyajikan sebuah wadah untuk berdiskusi tentang pentingnya mendorong terciptanya unicorn baru melalui peningkatan talenta digital dan ekosistem startup yang kondusif di tingkat kota/lokal melalui penyelenggaraan seminar Forum Kajian Pembangunan (FKP).

Moderator: Hening Wikan (Peneliti Junior, SMERU) 
  
Pembicara: 
  1. Palmira P. Bachtiar (Peneliti Senior, SMERU)
    “Mengembangkan Talenta Digital dalam Ekosistem di Tingkat Kota/Lokal” 
     
  2. Danang Juffry (Community Manager, Google Indonesia) 
     
  3. Hana Nur Auliana (Head of Communication and Engagement, Waste4Change) 

  
Penanggap: Benedikta Atika (Impact Investment Lead, Angel Investment Network Indonesia (ANGIN))
  

Tautan untuk mengunduh dokumen presentasi (pdf) dan mengakses rekaman video seminar: https://smeru.or.id/id/event-id/menciptakan-unicorn-baru-talenta-digital...

 

Penulis

Penafian:
Posting blog SMERU mencerminkan pandangan penulis dan tidak niscaya mewakili pandangan organisasi atau penyandang dananya.

Bagikan laman ini