Peralihan dari energi batu bara ke energi baru dan terbarukan bukan hanya tentang mengurangi emisi gas rumah kaca. Lebih dari itu, transisi ini juga harus memastikan terciptanya peluang yang lebih adil bagi semua orang. Transisi energi kerap mengungkap adanya ketimpangan relasi kuasa yang acapkali melekat dalam proses politik dan penyusunan kebijakan (Delina and Janetos, 2018). Oleh karena itu, transisi energi menjadi titik masuk yang penting untuk memahami isu keadilan iklim. Meskipun peralihan dari batu bara menghadirkan tantangan besar bagi pekerja dan masyarakat yang bergantung pada industri tersebut, transisi ini juga membuka peluang untuk membangun sistem ekonomi yang lebih inklusif dan berkeadilan.
Tantangan tersebut sangat relevan bagi Indonesia yang masih bergantung pada batu bara sebagai salah satu sumber energi dan penggerak ekonomi. Seiring dengan upaya mengurangi ketergantungan tersebut, daerah penghasil batu bara seperti Kalimantan Timur akan menghadapi dampak sosial dan ekonomi yang tidak kecil. Kalimantan Timur diperkirakan akan kehilangan hampir 16.900 lapangan kerja di sektor pertambangan batu bara pada 2050 (Tate et al., 2023). Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh para pekerja, tetapi juga oleh keluarga dan masyarakat yang selama ini bergantung pada sektor tersebut.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, dengan dukungan International Climate Initiative for Just Energy Transition (IKI-JET), telah memasukkan strategi transformasi ekonomi, termasuk diversifikasi ekonomi dan hilirisasi, ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029. Upaya ini bertujuan mempersiapkan Kalimantan Timur menghadapi transisi energi yang berkeadilan sekaligus mengurangi ketergantungannya pada batu bara.
Guna mendukung upaya tersebut, SMERU melakukan studi mengenai integrasi perspektif gender dalam kebijakan transisi energi di Kalimantan Timur. Studi ini menilai sejauh mana kebijakan yang ada telah mempertimbangkan kesetaraan gender serta mengidentifikasi peluang untuk memperkuat perencanaan dan pelaksanaan transisi energi yang lebih responsif gender (mampu menjawab kebutuhan dan tantangan yang dihadapi perempuan maupun laki-laki).
Studi ini mengkaji bagaimana transisi energi dari batu bara menuju energi bersih di Indonesia, khususnya melalui diversifikasi ekonomi daerah, dapat menggunakan pendekatan yang responsif gender. Melalui penyusunan rekomendasi berbasis bukti, studi ini bertujuan mendukung transisi yang tidak memperlebar ketimpangan yang sudah ada, tetapi justru membuka peluang bagi pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Studi ini dilaksanakan dalam tiga tahap.
- Persiapan
Tim peneliti melibatkan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur sejak awal studi untuk memastikan studi ini selaras dengan prioritas daerah serta menghasilkan bukti yang mendukung pengembangan transisi energi yang berkeadilan. - Pengumpulan Data
- Tinjauan Kebijakan dan Literatur
Tim studi menelaah berbagai kebijakan, peraturan, hasil penelitian, dan data ketenagakerjaan untuk memahami sejauh mana perspektif gender telah diintegrasikan ke dalam kebijakan transformasi ekonomi dan transisi energi di Indonesia. Hasil telaah ini memberikan gambaran mengenai kondisi kebijakan dan sosial ekonomi yang menjadi dasar penelitian. - Wawancara
Tim peneliti mewawancarai perwakilan pemerintah, pelaku usaha, serikat pekerja, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dewan masyarakat adat, serta Tim Percepatan Transformasi Ekonomi Kalimantan Timur (TPTEK). Wawancara ini menghimpun beragam perspektif mengenai tantangan, peluang, dan kebutuhan kebijakan untuk mewujudkan transisi energi yang lebih inklusif.
- Analisis Data
Tim peneliti menganalisis temuan penelitian menggunakan perspektif gender dan interseksional serta three-layer framework yang dikembangkan oleh MacArthur et al. Pendekatan ini digunakan untuk mengidentifikasi tantangan dan peluang yang dihadapi berbagai kelompok perempuan dan laki-laki dalam transisi energi di Kalimantan Timur.


