Pelibatan orang tua dalam pendidikan anak sering kali terkendala oleh keterbatasan informasi, rendahnya kapasitas bertindak (agensi), serta lemahnya insentif. Studi ini mengkaji apakah sistem pendidikan yang dikelola pemerintah dapat mengatasi hambatan-hambatan tersebut melalui intervensi berbiaya rendah dan minim tatap muka yang dilaksanakan oleh sekolah negeri dan guru di Kebumen, Indonesia—wilayah dengan kapasitas guru yang tergolong moderat, tetapi memiliki capaian pembelajaran yang stagnan. Intervensi ini terdiri atas tiga komponen: guru memberikan pembaruan rutin terkait perkembangan belajar siswa; orang tua dapat menuliskan tanggapan langsung kepada guru melalui bagian umpan balik; selebaran bulanan menyediakan cara-cara sederhana dan praktis untuk mendukung pembelajaran di rumah. Intervensi ini sepenuhnya dilaksanakan melalui struktur sekolah yang sudah ada, dengan biaya kurang dari USD 1 per siswa selama 14 bulan. Hasil uji coba acak (randomized) kami menunjukkan adanya peningkatan keterlibatan orang tua dan komunikasi dengan guru, serta meningkatnya motivasi guru dan dukungan terhadap siswa. Sepuluh bulan kemudian, nilai matematika meningkat pada siswa kelas rendah, sementara motivasi membaca menurun pada siswa kelas tinggi. Studi kualitatif lanjutan menunjukkan bahwa keterbatasan kemampuan orang tua dalam membantu pembelajaran serta kurangnya dukungan guru selama penutupan sekolah akibat pandemi membatasi kemajuan, terutama bagi siswa yang lebih tua.










