Seiring dengan semakin pesatnya digitalisasi, anak muda di seluruh dunia semakin sering menggunakan media sosial untuk mengekspresikan diri, membangun relasi, dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Media sosial menawarkan peluang sekaligus risiko (Aagaard, 2018). Di satu sisi, media sosial membuka ruang bagi kaum muda untuk mengekspresikan diri, membangun komunitas, dan mengakses berbagai informasi dengan lebih mudah. Namun, di sisi lain, media sosial juga dapat menghadirkan risiko, seperti distraksi, perundungan siber, kekhawatiran terkait privasi, hingga paparan terhadap konten yang berbahaya. Sejalan dengan sifat ganda tersebut, penelitian yang ada—yang sebagian besar dilakukan di negara-negara Utara Global (Global North)—menunjukkan temuan yang beragam dan umumnya bersifat korelasional mengenai dampak penggunaan media sosial terhadap kognisi, kesehatan mental, dan kesejahteraan kaum muda (Appel et al., 2020).
Meskipun lebih dari dua pertiga populasi muda dunia tinggal di negara-negara Selatan Global, remaja di wilayah ini masih kurang terwakili dalam penelitian mengenai penggunaan media sosial. Banyak studi yang ada belum sepenuhnya mempertimbangkan konteks sosial, budaya, dan ekonomi yang membentuk pengalaman digital kaum muda di wilayah tersebut. Padahal, faktor-faktor seperti ketimpangan akses internet, tingkat literasi digital yang lebih rendah, serta norma sosial dan budaya dapat memengaruhi cara kaum muda berinteraksi dengan platform digital.
Selain itu, anak muda di negara-negara Selatan Global juga menghadapi berbagai tantangan lain, seperti ketimpangan gender, keterbatasan akses internet, dan stigma terhadap kesehatan mental. Faktor-faktor ini turut memengaruhi bagaimana media sosial berdampak pada dimensi kesejahteraan mereka, baik kesejahteraan material (memiliki sumber daya yang cukup), kesejahteraan subjektif (merasa baik), maupun kesejahteraan relasional (merasa terhubung dengan orang lain). Tanpa penelitian yang memahami konteks tersebut dan melibatkan kaum muda secara langsung, kebijakan atau program yang bertujuan mendukung kesejahteraan digital remaja berisiko tidak tepat sasaran. Untuk membantu mengisi kesenjangan ini, SMERU melakukan sebuah studi guna menghasilkan bukti empiris yang berakar pada konteks negara-negara Selatan Global dan memahami lebih jauh bagaimana media sosial memengaruhi kehidupan serta kesejahteraan kaum muda.
Melalui penelitian ini, kami berharap dapat memberikan kontribusi baik secara konseptual maupun praktis. Studi ini akan membantu mengembangkan pemahaman yang lebih jelas dan konkret tentang kesejahteraan relasional yang mencerminkan realitas kehidupan kaum muda di negara-negara Selatan Global, sekaligus menghasilkan sebuah buklet praktis untuk mendorong penggunaan media sosial yang lebih sehat di kalangan remaja. Sepanjang pelaksanaan proyek, kami juga akan membagikan temuan kepada publik dan para pembuat kebijakan serta mendorong diskusi dan kebijakan yang berbasis bukti mengenai kehidupan digital kaum muda.
Penelitian ini bertujuan untuk memahami lebih jauh bagaimana digitalisasi memengaruhi kehidupan kaum muda saat ini. Secara khusus, studi ini ingin melihat bagaimana kaum muda di negara-negara Selatan Global menggunakan media sosial dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana pengalaman tersebut berkaitan dengan kesejahteraan mereka.
Penelitian ini memiliki dua tujuan utama:
- Memahami peran ponsel pintar dan media sosial dalam membentuk kesejahteraan relasional kaum muda.
- Mengembangkan pendekatan praktis yang dapat membantu kaum muda mengatur penggunaan ponsel pintar dan media sosial secara lebih sadar dan seimbang.
Penelitian ini akan berlangsung selama tiga tahun dan terdiri dari empat tahap utama.
- Tinjauan Awal Literatur
Pada tahap ini, peneliti meninjau berbagai penelitian yang sudah ada untuk memahami faktor kognitif, emosional, serta sosial-budaya yang memengaruhi kaum muda di negara-negara Selatan Global dalam menggunakan media sosial dan mengatur diri.
- Analisis Lintas Negara
Melalui diskusi kelompok terarah (focus group discussion) dan survei di Indonesia, Afrika Selatan, Vietnam, dan India, tahap ini mengeksplorasi bagaimana penggunaan media sosial dapat membantu atau justru menghambat kaum muda dalam mencapai tujuan pribadi mereka. Penelitian ini juga akan melihat faktor-faktor di sekitar mereka yang memengaruhi kesejahteraan relasional.
- Studi Buku Harian (Diary Study)
Tahap ini bertujuan menangkap pengalaman sehari-hari kaum muda secara lebih langsung melalui metode buku harian di dua lokasi dengan karakteristik yang berbeda. Melalui pendekatan ini, peneliti dapat melihat pola penggunaan media sosial, cara kaum muda mengatur penggunaannya, serta dampaknya terhadap kesejahteraan relasional mereka.
- Pengembangan Modul
Pada tahun terakhir, peneliti bekerja sama dengan peserta penelitian melalui pendekatan desain partisipatif dan metode berbasis permainan untuk mengembangkan modul “Consciously Connecting.” Modul ini bertujuan mendorong penggunaan media sosial yang lebih sehat, sadar, dan bertanggung jawab.


