Mendesain Intervensi Pendidikan: Uji Coba Pendekatan High-Touch High-Tech di Sekolah Menengah Pertama di Indonesia

Penelitian Kebijakan
Latar Belakang 

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) belum lama ini mengembangkan sistem pengajaran terdiferensiasi dengan bantuan teknologi untuk mendukung penyampaian pelajaran pada pendidikan tingkat dasar dan menengah. Kementerian tersebut juga sedang mempelajari pendekatan Sentuhan Tinggi Teknologi Tinggi (High-Touch High-Tech/HTHT) dalam pengajaran Matematika yang disesuaikan dengan kurikulum dan bahasa Indonesia.

Asian Development Bank Institute (ADBI) yang bermitra dengan Kemendikbudristek dan Bank Pembangunan Asia (ADB) berencana mendesain, mengujicobakan, dan mengevaluasi percontohan pengajaran HTHT secara acak di beberapa sekolah negeri terpilih di Indonesia. Proyek percontohan ini mencakup pengadopsian perangkat lunak berbasis kecerdasan artifisial (AI) serta panduan penggunanya dan pelatihan untuk para guru.

Tujuan 

Studi ini bertujuan mendesain prototipe program pelatihan bagi guru guna mempersiapkan mereka untuk mengintegrasikan teknologi ke dalam bahan ajar mereka dan mengevaluasi efektivitas desain pelatihan tersebut (beserta prototipe perangkat lunak pembelajarannya) dengan menggunakan evaluasi siklus cepat (RCE).

Metodologi 

Di bawah pengawasan manajer tugas (task manager) ADBI, The SMERU Research Institute dan mitra konsorsiumnya, Mentari Teachers Academy (konsultan), akan melakukan kegiatan berikut.

Cakupan kegiatan:

  1. mendesain rangkaian pelatihan guru agar guru dapat dan terbiasa menggunakan perangkat lunak pembelajaran dalam memberi instruksi di ruang kelas. Tujuannya adalah memastikan agar para guru (i) mengenal fungsi-fungsi dalam perangkat lunaknya, (ii) termotivasi untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan perangkat lunak, dan (iii) dapat mengintegrasikan perangkat lunak ke dalam rencana pembelajaran mereka. Perubahan praktik pedagogi yang dibutuhkan sebagai tambahan bagi perangkat lunak juga perlu dimasukkan ke dalam rangkaian pelatihan.
  2. mendesain program pelatihan yang inovatif agar para guru dapat menggunakan metode belajar berbasis inkuiri dan melatih guru Matematika untuk menggunakan metode belajar berbasis inkuiri yang dapat membantu siswa sekolah menengah pertama (SMP) untuk secara efektif memecahkan masalah riil dan yang sejalan dengan kurikulum nasional. Program pelatihan harus berfokus pada hal-hal konseptual serta pengalaman langsung, pembelajaran interaktif, dan sesi demonstrasi. Program ini juga perlu memberikan contoh-contoh praktis pembelajaran berbasis inkuiri, seperti sampel rencana pembelajaran dan jadwalnya, serta panduan belajar yang tersusun dengan baik. Para guru harus dapat menerapkan metode-metode yang dipelajari setelah pelatihan berakhir. Sejumlah sesi lanjutan juga perlu didesain untuk mengubah perilaku dan paradigma guru mengenai pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered learning).
  3. mengimplementasikan RCE. Setelah beberapa prototipe intervensi HTHT (dalam hal ini perangkat lunak berbasis AI dan program pelatihan guru) selesai dikembangkan, RCE dapat diterapkan di beberapa sekolah untuk melihat tingkat efektivitasnya serta mengidentifikasi dan mengatasi masalah dalam desain sebelum proyek percontohan utama dimulai. Lembaga konsultan akan menerapkan RCE dengan berkolaborasi secara erat dengan perusahaan teknologi yang mendesain komponen HTHT, para ahli pendidikan, dan ADBI mengenai kemungkinan-kemungkinan penyesuaian yang dibutuhkan.

RCE akan mencakup kegiatan pelaksanaan selama enam bulan. Instrumen RCE akan dirancang oleh lembaga konsultan, sementara ADBI dan Kemendikbudristek akan memberikan umpan balik.

Koordinator 
Shintia Revina
Anggota Tim 
Niken Rarasati
Risa Wardatun Nihayah
Status 
Sedang bejalan
Tahun Penyelesaian 
2022
Pemberi Dana Proyek 
Asian Development Bank Institute (ADBI)
Topik 
Wilayah Studi 

Bagikan laman ini