Sektor manufaktur Indonesia tetap menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan kinerja ekspor. Namun, untuk mewujudkan ambisi menjadi negara berpendapatan tinggi, Indonesia perlu secara signifikan meningkatkan produktivitas, daya saing global, serta kapasitas penciptaan lapangan kerja di sektor ini dalam dua dekade mendatang.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Indonesia memerlukan kebijakan industri yang strategis dan berorientasi masa depan, dengan mengambil pelajaran dari pengalaman negara-negara tetangga. Vietnam, Thailand, dan Malaysia telah menerapkan kerangka kebijakan yang berbeda-beda, namun berdampak signifikan dalam memperkuat basis manufaktur dan memperdalam integrasi ke dalam rantai nilai global. Analisis komparatif yang mendalam atas pengalaman tersebut, termasuk bagaimana negara-negara tersebut merespons dominasi Republik Rakyat Tiongkok (RRT), dapat memberikan wawasan berharga bagi perumusan strategi industri Indonesia yang tangguh dan adaptif.
Dalam studi ini, SMERU melakukan analisis komprehensif tentang daya saing dan produktivitas sektor manufaktur Indonesia, dengan membandingkan kinerja dan kebijakannya dengan tiga negara pesaing utama di kawasan: Vietnam, Thailand, dan Malaysia. Hasil analisis ini digunakan untuk mengembangkan serangkaian rekomendasi kebijakan yang jelas, berbasis bukti, dan terprioritaskan untuk menginformasikan dan menginspirasi strategi nasional untuk mewujudkan potensi penuh sektor manufaktur Indonesia, secara nyata meningkatkan produktivitasnya, dan mencapai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan dalam ekonomi global pasca-pandemi.
Tujuan utama studi ini adalah menyusun rekomendasi kebijakan yang strategis dan dapat diterapkan untuk meningkatkan daya saing dan produktivitas manufaktur Indonesia dalam 10–20 tahun ke depan.
Untuk itu, studi ini menghadirkan peta jalan yang praktis dan berbasis bukti bagi para pembuat kebijakan. Peta jalan ini disusun dengan mengambil pelajaran dari analisis perbandingan reformasi kebijakan industri dan pendekatan kelembagaan di Indonesia, Vietnam, Thailand, dan Malaysia.
Untuk menjamin ketepatan dan ketajaman analisis, serta menghasilkan rekomendasi kebijakan yang aplikatif dan relevan dengan konteks Indonesia, studi ini menggunakan metode campuran. Pendekatan ini membantu menghadirkan gambaran yang utuh dan mendalam tentang kondisi daya saing serta produktivitas manufaktur Indonesia.
Penelitian ini terdiri dari dua komponen yang saling melengkapi.
- Analisis komparatif
Komponen ini menyajikan pembandingan yang sistematis dan berbasis data pada berbagai tema kunci. Analisis dilakukan dengan membandingkan indikator kinerja dan kerangka kebijakan Indonesia dengan negara-negara tetangga, yaitu Vietnam, Thailand, dan Malaysia. Ketiga negara tersebut telah menerapkan kebijakan yang berhasil memperkuat sektor manufaktur dan memperdalam integrasi ke dalam rantai nilai global.
- Studi kualitatif
Komponen ini memastikan bahwa temuan penelitian berpijak pada realitas di lapangan dan pandangan strategis para pemangku kepentingan di Indonesia. Studi ini mencakup wawancara mendalam dengan pakar dan praktisi, serta diskusi dengan pelaku usaha, investor, dan asosiasi sektor swasta. Pendekatan ini menangkap dinamika dan tantangan nyata dalam ekosistem manufaktur Indonesia, sekaligus memberikan konteks penting untuk memahami kesenjangan implementasi kebijakan yang masih terjadi.
Dengan menggabungkan analisis data dan masukan dari lapangan, studi ini menghasilkan kesimpulan dan rekomendasi kebijakan yang lebih kuat dan relevan.


