Kota Jakarta menjadi salah satu wilayah yang paling rentan terhadap krisis iklim global karena letaknya di pesisir dan muara sungai. Kerentanan ini juga menjalar ke wilayah sekitarnya seperti Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Cianjur (Jakarta Raya), yang diperparah oleh tata ruang yang tidak optimal serta berkurangnya daerah resapan air.
Kelompok marginal seperti penduduk Pulau Pari, warga Marunda, dan anak-anak Bantar Gebang merasakan dampak krisis iklim secara langsung dan berlapis, mulai dari abrasi pantai dan gagal panen hingga paparan polusi serta keterbatasan akses terhadap layanan dasar. Di Pulau Pari, ekosistem laut rusak akibat reklamasi. Warga setempat berusaha merehabilitasi ekosistem pesisir, khususnya mangrove, namun upaya ini terhambat oleh pembangunan eksploitatif seperti reklamasi untuk pembuatan pulau baru dan pengembangan resor mewah. Di Marunda, debu batu bara mengancam kesehatan warga rusunawa. Mereka membutuhkan transisi ke energi terbarukan dan layanan kesehatan yang responsif. Sementara itu, di Bantar Gebang, anak-anak pemulung kesulitan mengakses pendidikan. Komunitas SAKA hadir untuk memberdayakan anak-anak tersebut lewat pelatihan keterampilan non-teknis dan pengolahan limbah berbasis ekonomi sirkular.
Meski demikian, upaya-upaya tersebut masih terhambat oleh kebijakan yang lebih mengutamakan kepentingan ekonomi dibanding perlindungan sosial dan lingkungan, serta minimnya pengakuan terhadap peran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya dan mitigasi risiko. Karena itu, penting untuk mendorong riset kolaboratif yang berpihak pada komunitas guna mengidentifikasi dan mengembangkan solusi berkelanjutan yang kontekstual.
Pendekatan ini tidak hanya membantu memperkuat ketahanan masyarakat terhadap krisis iklim, tetapi juga menjadi dasar advokasi untuk perubahan kebijakan di tingkat lokal dan nasional. Dengan dukungan regulasi yang tepat, solusi berbasis komunitas yang telah tumbuh secara organik dapat diperkuat, direplikasi, dan diperluas guna mewujudkan transisi iklim yang adil dan inklusif.
SMERU bekerja sama dengan Greenpeace Indonesia melakukan penelitian komprehensif yang menyoroti aspek sosial-ekonomi di setiap lokasi studi. Peran SMERU mencakup penyusunan desain penelitian, pengumpulan data primer dan sekunder, pengolahan dan analisis data, penulisan laporan penelitian, serta diseminasi hasil penelitian.
Hasil penelitian ini akan dipublikasikan oleh Greenpeace Indonesia dan SMERU, melalui laporan penelitian dan kampanye di media sosial, untuk menghasilkan dampak berikut:
- Meningkatkan kesadaran dan dukungan terhadap inisiatif akar rumput dalam menghadapi krisis iklim dan lingkungan, terutama di kalangan masyarakat sipil, lembaga donor, media massa, dan pemangku kepentingan kebijakan.
- Memicu diskusi di kalangan pakar dan pembuat kebijakan mengenai perlunya tata kelola lingkungan yang inklusif dan berbasis komunitas, serta pentingnya memasukkan solusi komunitas dalam strategi mitigasi dan adaptasi iklim di tingkat nasional dan lokal.
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
- Mengidentifikasi dan mengeksplorasi solusi alternatif yang diusulkan oleh komunitas sasaran fokus dalam menghadapi krisis iklim dan lingkungan.
- Mengevaluasi pelaksanaan, efektivitas, dan keberlanjutan solusi tersebut.
- Memberikan rekomendasi kebijakan dan regulasi yang dapat mendukung keberhasilan implementasi serta perluasan solusi tersebut.
- Mengampanyekan solusi berbasis komunitas agar berdampak luas pada publik, termasuk peningkatan kesadaran, gerakan sosial, dan regulasi keadilan iklim.
Penelitian ini mengeksplorasi solusi alternatif yang dikembangkan komunitas untuk menghadapi krisis iklim. Selain mempelajari bagaimana solusi dijalankan, penelitian ini juga menilai kesesuaian solusi tersebut terhadap aspek lingkungan, sosial, serta ekonomi.
Untuk itu, pendekatan yang digunakan adalah metode campuran. Pendekatan kualitatif dipakai untuk memahami secara mendalam konteks lokal dan solusi komunitas, sementara pendekatan kuantitatif digunakan untuk memvalidasi konteks lokal yang ditemukan dari pendekatan kualitatif dengan menggunakan data sektoral, data demografis penduduk di tingkat kelurahan, dan data satelit.